Breaking News

Pengantin Farida di Perkosa

Malam ini merupakan malam pertama J & F sebagai suami istri. Di kamar, J & F mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang nyaman dan santai dipakainya. Begitu rebah ke ranjang, keduanya langsung saling berpagut. Cerita Dewasa Kisah Pemerkosaan Pengantin Baru Cerita Dewasa Terbaru Cerita Dewasa Kisah Pemerkosaan Pengantin Baru | Saat itu Jericho merasakan adanya hal yang aneh pada dirinya. Sepertinya jantungnya berdegup lebih cepat dan lebih keras. Semangat libidonya menjadi sangat menyala-nyala. Nafsu birahinya menjadi demikian membara. Malam itu mata Jericho yang nampak menjadi merah seakan terbakar menyaksikan Farida istrinya yang teramat sangat seksi. Saat menyaksikan pengantinnya tergolek di ranjang, dia ingin secepatnya menggagahinya. Menyetubuhinya. Kemudian dengan serta merta tanpa menunjukkan kelembutan atau sentuhan-sentuhan awal, bahkan dengan cara agak kasar, dilucutinya pakaian tidur istrinya Farida, kemudian juga pakaiannya sendiri. Perasaan yang menggebu-gebu ini ternyata juga melanda Farida sendiri. Saat Jericho melucuti pakaiannya, dengan desahan yang keras Farida juga menunjukkan ketidaksabarannya. Diraihnya tonjolan besar pada selangkangan Jericho yang nampak menggunung. Sebelum sempat Jericho menelanjangi dirinya sendiri, di betotnya ****** Jericho dari sarangnya.

what image shows

Langsung di kulumnya. Mereka, para pengantin ini nampak dikuasai nafsu birahi yang sudah tidak dapat mereka kendalikan sendiri. Mereka saling merangsek, saling mencengkeram dan meremas, saling menjilat dan menyedoti, saling melampiaskan dendam birahinya. Suasana riuh rendah oleh desah dan rintih pasangan ini sungguh sangat erotis bagi siapapun yang mendengarnya. Mungkinkah hal itu disebabkan oleh suasana romantis villa mewah ini?. Suasana romantis yang memilik kekuatan untuk mendongkrak libido mereka dengan tajam sehingga nafsu birahi mereka sepertinya begitu terbakar. Nampak Farida yang telah telanjang bulat menunjukkan buah dadanya yang sangat ranum mengencang. Putingnya yang memerah mencuat keras tegak di bukit ranum kencang itu, seakan menanti siapapun yang bersedia mengulum dan menyedotinya. Sementara itu ****** Jericho demikian pula. Darahnya telah penuh terpompa pada urat-urat batangnya. ****** Jericho ngaceng dengan keras sekali. Urat-uratnya bertonjolan di sekeliling batang itu. Kepalanya yang cukup besar berkilatan yang disebabkan darahnya menekan keluar hingga membuat kulitnya tegang dan mengkilat. ****** itu terus mengaduk-aduk wilayah selangkangan istrinya. Dia mencari lubang vagina Farida yang juga sudah merekah kehausan menunggu ****** Jericho untuk menembusnya. Pagutan, ciuman, gigitan yang disertai erangan, desahan dan rintihan dari Jericho dan Farida saling bersambut. Keduanya benar-benar tenggelam dalam nafsu birahi yang sangat tinggi. ?Ayyooo Jerichoyy, masukkan tongkolmuuuu.. ayyooo Dann…?. ?Mana memiawmu sayangggg… tongkolku sudah tidak dapat tahan nihhh. ingin secepatnya memasuki lubang surganmuuuu… FaridaAAAAA! Tak pelak lagi, dengan penuh ketidak sabaran, mereka, Jericho dan Farida ini sepertinya telah dirasuki kegilaan birahi. Mereka nyaris seperti hewan, yang melampiaskan nafsunya berdasarkan naluri hewaniahnya. Berbagai obsesi seksual yang sesungguhnya bersifat sangat pribadi dan tersimpan dalam-dalam di sanubari masing-masing, tidak dapat tersembunyikan lagi tumpah di malam pertama bulan madu mereka di Villa Forest Green yang sangat romantis ini. Ujung ****** Jericho sudah tepat di bibir lubang vagina Farida ketika tiba-tiba dengan sangat mengejutkan terdengar pintu kamar digedor-gedor dengan sangat kasar dan keras. ?Haaiiiii, yang di dalam kamarrr! Bukaa! Buka pintunyaa! Atau aku yang akan buka dengan paksa! Ayyyooooo bukkaa!?. Amukan birahi seksual J & F yang sedang memuncak langsung runtuh. Dengan geragapan mereka langsung diserang kecemasan dan ketakutan hebat. Mereka sama sekali tidak pernah memperhitungkan adanya kemungkinan seperti ini. Di villa mewah yang sejuk dan penuh kesan tenang dan aman ini sama sekali tidak menyiratkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini. Jericho langsung mendekap istrinya yang nampak langsung gagap histeris penuh ketakutan. Kemudian menyusul gedoran lagi dan gedoran yang semakin kasar lagi. Dengan gemetar dan ketakutan yang hebat kedua pengantin pria dan wanita itu serta merta menarik selimut seakan dapat bersembunyi sambil menutupi ketelanjangannya. Dan akhirnya terdengar tendangan-tendangan yang sangat kuat. Pintu kamar tidur itu jebol. Daun pintunya terbanting ke lantai dengan mengeluarkan suara yang sangat keras. Jericho dan Farida menggigil. Mata mereka terpaku tajam ke arah lubang pintu yang telah jebol tebuka itu. Mereka melihat ada 2 orang bertopeng setengah telanjang kecuali cawat-cawat mereka yang menutupi aurat mengayun-ayunkan kapak di tangannya. J & F semakin ketakutan, menggigil gemetar. Kedua orang itu menutupi kepalanya dengan semacam rajutan kaos gelap, persis seperti yang terjadi di film-film kriminal atau peristiwa-peristiwa teror di TV. Yang nampak hanya mata mereka yang beringas dan suara mereka yang terdengar keras, kasar dan brutal. ?Ho, ho, ho, ha, ha, ha…, rupanya sepasang pengantin cantik dan tampan ini sedang bercumbu… uhhhh… Uhhh nikmatnya nihhh…?. Kemudian salah satu dari mereka mendekat ke ranjang. Dengan kekuatan tangannya dia renggut selimut yang menutupi Jericho dan Farida. Dengan sekali renggut selimut itu langsung terbuka dan tampaklah Jericho dan Farida yang bugil saling berpelukan histeris. Langsung dilemparkannya selimut itu ke lantai. ?Ampuuunnnnnnn Paakk… Jangan diapa-apakan kamiii… ampunnnn.. a.. mpuunn …?, Farida menangis dan gagap karena didera ketakutan yang amat sangat. Seolah-olah tidak mendengar suara-suara iba tersebut, ketakutan maupun sikap protes dari Jericho dan Farida, kedua orang itu langsung membuka kedoknya. Dan betapa terperanjatnya Jericho dan Farida ketika melihat siapa kedua begundal itu. Mereka adalah Bobby dan Cakra yang sebelumnya dianggap sangat santun dan menyenangkan oleh pasangan J & F ini. Tanpa dapat dicegah lagi Jericho yang dalam keadaan bugil langsung bangkit hendak mengamuk dan melawan kedua orang itu. Tapi dari penglihatan sepintas sudah jelas, Jericho bukanlah lawan mereka berdua. Tubuh Bobby dan Cakra yang kekar dan penuh otot bukan lawan Jericho. Dengan mudah dia dilumpuhkan, tangan-tangan kuat Cakra meringkusnya kemudian kedua tangan dan kaki Jericho diikat dan tubuhnya dibiarkan tergeletak di lantai. Mereka tidak mengacuhkan segala protes, hujatan dan caci maki Jericho. Dengan tertawa penuh kemenangan mereka merasa puas dengan lancarnya perbuatan keji mereka. Selanjutnya Bobby dan Cakra lebih tertarik untuk memusatkan perhatian pada pengantinnya yang cantik, yang juga bugil dan tanpa daya tergolek di ranjangnya. Permohonan ampun dan tangisan ketakutan penuh pilu dari bibir mungil Farida sama sekali tidak menggetarkan hati para begundal itu. Mungkin hati mereka memang telah mereka buang jauh-jauh. Tangan-tangan Bobby dan Cakra tidak sabar lagi untuk menjamah tubuh cantik mulus Farida itu. Tapi saat Cakra mendekat untuk meraih pahanya, tanpa dia duga kaki Farida menendang matanya. Gelagapan dan kepedihan pada matanya membuat Cakra terduduk sambil menutup mukanya. Melihat hal itu dengan sigap Bobby langsung merangkul Farida. Pengantin yang berontak dan berteriak-teriak histeris ketakutan itu ditindihnya. Tubuh putih mulus telanjang itu dipeluk dan diringkusnya tanpa banyak kesulitan, bahkan nampaknya Bobby ini sangat menikmati apa yang harus dia lakukan. Tangan kanan Farida direnggutnya. Dia keluarkan tali dari kantongnya. Tangan itu diikatnya kuat-kuat ke tiang bagian atas ranjang itu. Dan tangan kirinya kembali direnggut untuk diikatkan ke tiang ranjang di bagian sebelah atas yang lain. Tentu saja Farida yang dilanda ketakutan yang amat sangat langsung berontak dan meronta seperti kuda betina yang Faridar. Kaki-kakinya menendang-nendang apa saja yang ada di dekatnya. Tapi semua perlawanan itu hanya sia-sia. Kaki-kaki itu, oleh Cakra yang sudah baik matanya direnggut dan diikatkannya ke kaki ranjang bagian bawah kanan dan kiri. Peristiwa itu sungguh menjadi penampakkan yang sangat erotis baginya. Farida, sang pengantin, bidadari yang mulus, dewi berkulit kuning putih tanpa cacat, perempuan jelita yang mengamuk dengan Faridar, melawan dua begundal setengah telanjang dengan tubuh hitamnya yang berkilat karena keringatnya. Para begundal brutal itu nampak kewalahan saat meringkus Farida. Dengan cara merangkulkan tangan-tangannya serta menekankan wajah-wajah mereka sekenanya pada tubuh yang sangat merangsang birahi milik si jelita, Bobby dan Cakra memerlukan kerja keras sambil menikmati sensual tubuh Farida. Akhirnya sang korban yang jelita itu benar-benar tak berdaya. Dan kini, kaki dan tangan Farida telah terikat kuat-kuat pada ranjang pengantinnya. Dan untuk keberhasilannya, para pendatang brutal itu langsung disuguhi pemandangan yang sangat spektakuler, merangsang dan erotis sekali. Tangan Farida yang terikat ke bagian atas kanan dan kiri ranjang membuat ketiaknya yang indah nampak terbuka. ‘Uuhhh… Akan kubenamkan hidungku ke lembah ketiakmu yang indah itu.. lidahku, bibirku akan menjilati dan menyedotmu Faridaaa…’, begitu begitu pikir begundal-begundal tersebut. Dan paha Farida yang kini telah mengangkang terbuka, memamerkan memiawnya yang ranum menggunung yang langsung mendongkrak nafsu birahi kedua serigala lapar dan brutal itu. Keduanya tercekat menyaksikan dengan penuh takjub kemaluan Farida yang ditutupi bulu-bulu tipis merekah yang seakan menunggu jamahan tangan-tangan kasar mereka atau jilatan lidah dan sedotan bibir tebal mereka atau bahkan tusukan ******-****** kedua begundal brutal itu. Tak tahan menyaksikan tindakan brutal yang dilakukan Cakra dan Bobby pada istrinya, Jericho berteriak-teriak dengan harapan ada orang lain yang mendengarkannya di tengah hutan sepi itu. Ulah itu hanya jadi tertawaan para begundal. Bobby menyuruh Cakra untuk menyumpal mulut Jericho dan menyeretnya ke kamar sebelah. Cakra langsung bertelanjang melepas cawatnya sendiri yang dekil dan pesing untuk di sumpalkan pada mulut Jericho. Tentu saja Jericho jadi gelagapan panik menerima perlakuan kotor Cakra itu. Tetapi mana dapat ia melawan dengan kaki dan tangannya yang masih terikat erat-erat. Dan Bobby juga langsung bertelanjang melepas cawatnya. Dia sumpalkan cawatnya yang sama dekilnya ke mulut Farida yang langsung berkelojotan karena jijik dan ingin muntah. Tetapi sia-sia pula. Dan akhirnya tanpa daya pasangan J & F ini menjadi tawanan Cakra dan Bobby. Dan tanpa terhindarkan, Jericho maupun Farida dihadapkan pada pemandangan yang selama ini dianggapnya sangat tabu. Kedua orang ini menyaksikan ****** lelaki lain, ****** Cakra dan Bobby yang telah ngaceng berat. ******-****** mereka yang nampak tegak dan kaku itu sungguh luar biasa. Mengingatkan pada pisang tanduk di sepanjang jalan Bogor. Besar dan panjangnya tak kurang dari 20 cm dengan garis tengah sekitar 4,5 cm. Bagi seorang wanita semacam Farida, ****** sebesar itu membuat khayalannya langsung melayang. Farida membayangkan bagaimana rasa pedih dan sakitnya apabila ****** itu dipaksakan menembus memiawnya yang masih perawan. Akankah hal itu akan terjadi pada dirinya yang hingga kini bahkan suaminya pun belum pernah benar-benar menjamah memiawnya itu? Akankah Cakra dan Bobby mendahului Jericho sebagai pemilik yang sah atas vaginanya secara bergiliran memaksakan ******-****** mereka itu menembus memiawnya? Farida sangat takut dan merasa ngeri dengan pikirannya yang mengkhayal sejauh itu. Dia menggigil kemudian menutup matanya. Sementara itu bagi Jericho, melihat Cakra dan Bobby yang memiliki ****** sebesar dan sepanjang itu rasa percaya dirinya langsung runtuh. Dia bayangkan apabila istrinya sempat mereka paksa untuk menerima ****** mereka, dan pada akhirnya Farida mendapatkan kenikmatan serta kepuasan dengan ******-****** sebesar itu, dapat dipastikan dia tidak mungkin mampu mengungguli Cakra maupun Bobby. Dan di belakang hari dapat dipastikan Farida tidak akan pernah puas berhubungan seks dengan dirinya. Farida akan dengan sebelah mata saja melayani dia sebagai suaminya. Jericho sangat terpukul. Membayangkan istrinya Farida mendesah serta merintih mendapatkan kenikmatan birahi dari Bobby dan Cakra. Hatinya langsung ciut. ?Yo, ambil minuman itu lagi. Kita buat mereka lebih galak lagi?, terdengar Bobby menyuruh Cakra. Kata-kata Bobby itu menjadi pikiran Jericho maupun Farida. Minuman apa itu? Bikin galak lagi? Apakah hal itu yang membuat mereka demikian panas birahinya saat memasuki peraduan setelah makan malam tadi? Mungkinkah Cakra dan Bobby memasukkan obat perangsang seks pada makan malam mereka tadi? Tak lama kemudian Cakra balik dengan sebotol cairan berwarna kuning bening. Pertama-tama pada Jericho. Tangan Bobby memegangi kepala dan membuka sumpal mulut Jericho yang langsung panik ketakutan. Kemudian Cakra menjejalkan mulut botol ke mulut Jericho dan memaksakan untuk minum. Ketika Jericho berusaha menolak dengan cara memalingkan wajahnya, Bobby memeganginya dan membekap hidungnya. Karena tersedak Jericho terpaksa menelan cairan dari botol itu. Dia merasakan asin dan pesing. Jangan-jangan air kencing mereka ini. Dengan cara yang sama cairan itu juga dijejalkan pula pada mulut Farida. ?Nahhhh, bapak dan ibu, jangan khawatir… Itu adalah minuman demi kesehatan pak Jericho yang tampan dan bu Farida yang jelita…, sebentar lagi bapak dan ibu pasti akan semakin segar, ha, ha, ha…?. Beberapa saat kemudian, pasangan J & F merasakan dunia seakan berputar-putar. Pandangan matanya mengabur. Jantungnya berdegup lebih kencang. Farida merasakan darahnya memanas. Dan gambaran ******-****** Cakra serta Bobby yang luar biasa itu mendekat. Dia merasakan seakan-akan ujung-ujung ****** mereka menyentuh gerbang bibir vaginanya. Dia merasakan rangsangan birahi yang hebat, seperti halnya saat ****** Jericho suaminya menyentuh vaginanya. Sementara itu Jericho juga merasakan darahnya yang memanas. Nafsu birahinya meledak-ledak. Ingin rasanya menjilati selangkangan Farida istrinya yang saat ini terbuka memamerkan nonoknya di atas ranjang pengantinnya. Ingin rasanya dapat secepatnya terbebas dari para begundal itu untuk kemudian melanjutkan apa yang tadi telah hampir dilakukannya, tongkolnya menembus memiaw istrinya. ?Lemparkan Jericho ke kamar sebelah?. Si Cakra kembali melaksanakan perintah Bobby. Dengan mulutnya yang kembali tersumpal cawat Cakra dan perasaannya yang mabuk dan ingin muntah akibat minuman yang dijejalkan tadi, Jericho diseret ke kamar sebelah. Kemudian pintunya dikunci. Jericho sangat penasaran, kesal dan marah. Semula dia berharap dapat tetap sekamar dengan istrinya. Setidak-tidaknya matanya masih dapat menikmati tubuh bugil istrinya yang terikat di ranjang, sehingga ledakan birahinya yang kini melanda nafsunya dapat sedikit tersalurkan. Di lain pihak Farida yang ditinggalkan suaminya tak dapat menghindarkan pandangannya pada ****** Cakra dan Bobby yang nampak sedemikian besar dan panjangnya. Batang ******-****** yang dikelilingi urat-urat itu semakin nampak perkasa. Kepala helmnya yang yang tumpul membulat berkilatan kena cahaya lampu kamar. Farida sendiri belum pernah menyaksikan secara langsung ****** lelaki dewasa seperti yang dilihatnya sekarang ini. Dia hanya ingat bahwa pernah melihat ******-****** sebesar itu dari VCD porno yang disaksikan ramai-ramai bersama teman-temannya pada saat jam istirahat di kantor. Sewaktu vaginanya siap ditembus ****** Jericho dia hanya merasakan ujung ****** yang hangat merangsang bibir-bibir vaginanya. Dia ingat betapa nikmatnya saat birahinya menjadi demikian memuncak yang disebabkan ujung ****** Jericho itu. Dia merasakan keinginannya yang sangat kuat agar Jericho secepatnya menembus kemaluannya. Bibir vaginanya sangat kehausan untuk melahap batang ****** Jericho. Tapi kini Jericho tidak lagi berada di kamar ini. Yang nampak kini adalah Cakra dan Bobby yang sama-sama telah berbugil ria. Dan ******-****** mereka itu, kenapa mata Farida dibuatnya sangat terpesona? ******-****** itu tegak ngaceng dengan kokoh dan tegarnya. Farida berpikir akankah mereka juga akan seperti Jericho? Menempelkan atau menusukkan ******-****** yang luar biasa itu ke bibir vaginanya? Akankah dia akan membiarkan dan menerima kehadiran ******-****** yang bukan milik suaminya itu? Akankah dia mampu menerima serangan badai nafsu serigala para brutal itu? Dari celah matanya yang basah karena air mata, Farida melirik ke ****** para brutal tersebut. Tiba-tiba perasaan seperti yang terjadi pada saat bersama Jericho memasuki kamar usai makan malam tadi melintas. Rasa ingin, ingin, ingin, ingin, keinginan yang kuat, keinginan yang meledak-ledak, ingin Jericho melanjutkan tusukan tongkolnya ke lubang kemaluannya, melanjutkan kenikmatan birahi yang mulai memuncak. Mungkinkah itu? Bagaimana mungkin? Yang nampak jelas siap melakukan itu justru Bobby dan Cakra yang telah telanjang bulat dengan ******-****** keras besar panjang mereka itu. Mereka sangat siap dan sangat mungkin memperkosanya. Ooohh…, alangkah ngerinyaaa… Farida berusaha menepis perasaan yang sangat menakutkan itu. Dipalingkan wajahnya dari ******-****** itu. Sungguh ngeri membayangkan ****** sebesar dan sepanjang milik para brutal itu menembus memiawnya. Apabila hal itu terjadi pasti akan merobek-robek vaginanya. Tetapi darah dan jantung ini? Mengapa darah dan jantung Farida terus berdegup kencang sejak makan malam tadi seakan ada yang terus merangsangnya. Dan kini bahkan semakin kencang serta kuat memacu darahnya, setelah Bobby dan Cakra mencekoki cairan kuning bening tadi. Apakah itu obat perangsang seksual yang membuat dirinya tidak dapat melepaskan pandangannya atau memalingkan wajahnya dari ******-****** Cakra dan Bobby itu? Ah, sangat mungkin…! Bukankah Cakra dan Bobby nampak jelas telah mempersiapkan semua rencana jahatnya ini. Topeng itu, kampak itu, gedoran di pintu itu. Semua merupakan bagian rencana jahatnya. Dengan memberikan obat perangsang birahi seksual, korbannya akan cepat takluk dan mengikuti kemauan bejat seksualnya. Korbannya akan patuh untuk menjadi budak seksualnya. Farida akan cepat menyerah dan sangat kehausan untuk secepatnya menikmati ******-****** para pejantan itu. Ahhh…, degup jantung ini…, kenapa jadi sulit sekali, membuang keinginannya untuk tidak kembali melirik ******-****** pejantan itu. ‘Oohh.., jangannnn… jangannnn…!’ Farida memejamkan matanya untuk menghapus semua lintasan pikirannya, wajahnya memucat, kemudian memerah, kemudian kembali memucat, kembali memerah. Bayangan akan ******-****** besar itu jadi berbalik sangat menggairahkannya. Perasaan ngeri, takut, cemas tetapi tidak sepenuhnya ingin benar-benar menghindar, rasa birahi yang terus mengejarnyaa, dirasuki dengan penuh kebimbangan dan keraguan, semuanya serba bercampur aduk. Farida dilanda kebingungan yang amat sangat. Khayalan-khayalan Faridarnya yang terus memburu tidak dapat dilenyapkan dari kepalanya. Detak dan degup jantungnya juga tak dapat dikendalikannya. ‘Akankah…, Ohhh…, ampuni aku Jericho…, Jerichoyyyyyy…, ampuni akuuuu…, aku tidak mampu mengambil keputusan…, tolongggg…, aku membutuhkan kk… kkaamuuu… uuuu.. uuuhhhh…’. Dan memang, keputusan akhirnya bukanlah di tangan Farida. Begitu terlempar ke kamar buangannya, pertama-tama yang dicari Jericho adalah lubang. Lubang atau celah di dinding, dimana dia dapat mengintip istrinya yang telanjang. Pengaruh minuman yang dijejalkan Cakra dan Bobby tadi membuat libido Jericho terangsang dengan hebat, saat ini yang diperlukan Jericho adalah dapat mengintip istrinya telanjang, dia ingin melakukan mastubasi. Ternyata dia dapatkan, kamar villa yang seluruhnya dibuat dari kayu dan balok itu memberikan celah di antara dua baloknya. Celah itu cukup longgar. Jericho serta merta beringsut ke celah itu. Tetapi ternyata celah itu terlampau tinggi di atas kepala Jericho. Dengan ikatan tali pada tangan dan kakinya Jericho kesulitan untuk berdiri maupun sekedar jongkok. Sementara celah itu dapat dia raih setidak-tidaknya dengan berjongkok. Dia mengamati sekeliling kamar itu. Dari kamar sebelah terdengar suara riuh. Terdengar ‘hah, huh, hah, huh…’, suara istrinya yang mulutnya terbungkam celana dalam dekil milik Bobby. Jericho jadi panik, dia memastikan sesuatu telah terjadi pada istrinya. Dia gulingkan tubuhnya ke sebuah kotak kayu di pojok kamar itu. Dia coba menendang kotak itu dengan kaki terikat agar dapat didekatkan ke dinding. Berhasil. Jericho kembali berguling. Memerlukan perjuangan cukup panjang untuk dapat memanjat kotak itu dengan kaki dan tangan yang terikat. Sementara itu suara istrinya sudah terdengar berbeda, dalam waktu singkat suara itu telah berubah menjadi desahan dan rintihan, disamping juga terdengar suara Bobby atau Cakra atau kedua-duanya. Mereka terdengar berbicara dalam bahasa daerah mereka yang Jericho sama sekali tidak memahami artinya, tetapi Jericho memastikan mereka sedang melakukan sesuatu hal yang tidak senonoh pada Farida istrinya yang kini terikat dan telanjang bulat di depan mereka. Akhirnya setelah berjuang keras untuk memanjat kotak kayu itu, dalam keadaan terikat tangan dan kakinya mata Jericho kini dapat menyaksikan Bobby sedang memeluk dan menciumi kedua payudara istrinya. Dan Cakra dari arah lain sedang memeluk paha Farida serta wajahnya tenggelam dalam selangkangannya. Nampak kepala Cakra naik turun menjilati arah kemaluan Farida. Seketika itu juga seolah-olah ada sejuta petir menghantam kesadaran Jericho. Dia langsung terjungkal ke lantai. Jericho kehilangan kesadarannya. Tetapi hanya sesaat, dalam keadaan terkapar di lantai nampak kelopak mata Jericho yang lelah pelan-pelan terbuka. dan kemudian dengan cepat dia bangkit dan kembali berusaha merangkak ke kotak itu untuk mengintip celah di dinding itu. Bermenit-menit dia lalui untuk mampu kembali pada posisi dimana dia dapat mengintip kamar istrinya yang saat ini sedang digarap oleh Bobby dan Cakra. Suara erangan yang telah berganti menjadi suara desahan dan rintihan istrinya terus terdengar, juga pembicaraan antara Bobby dan Cakra yang tidak diketahui maknanya oleh Jericho terdengar semakin cepat bersahut-sahutan. Sementara itu telah terjadi hal yang aneh pada diri Jericho, mungkin pengaruh dari makanan dan minuman yang dicekokkan oleh para begundal itu ke mulutnya atau setelah menyaksikan istrinya dikerjai secara brutal oleh dua begundal itu sehingga membuatnya terjungkal ke lantai, atau mungkin juga campuran dari keduanya. Saat dia kembali menaiki kotak itu, dorongan keinginannya sudah berganti. Dia tidak lagi ingin mengintip untuk melihat istrinya yang telanjang atau untuk menyaksikan bagaimana istrinya dengan gigih melawan kedua brutal itu. Yang diinginkannya sekarang adalah menyaksikan bagaimana kedua brutal itu yang dengan ****** besar dan panjangnya dapat memberikan kenikmatan erotik dan sensasional kepada istrinya. Sekarang dia ingin menikmati pemandangan bagaimana istrinya dient*t oleh para begundal itu. Jericho kembali ngaceng berat. Lebih sensasional daripada sebelumnya. Dia ingin secepatnya menyalurkan syahwatnya. Dia ingin melakukan masturbasi sambil menonton istrinya dient*t para berandal-berandal di kamar sebelah itu. Inikah yang disebut ?shock terapy?? Sebuah peristiwa yang sangat luar biasa yang mampu dengan seketika mengubah mental, selera, cara pandang ataupun keyakinan seseorang. Yang mampu mengubah Jericho, dari ketakutan serta kekhawatiran yang mencekam, menjadi sesuatu yang justru dia harapkan untuk terjadi? Dari yang awalnya berkeinginan untuk menolong menjadi keinginan untuk ikut menikmati? Dan itulah yang terjadi. Saat matanya kembali di lubang ingintipan tersebut, kini dia menyaksikan bahwa telah terjadi perkembangan. Nampak sumpal pada mulut istrinya sudah dilepas, walaupun pada tangan dan kakinya masih terikat pada ranjang itu. Nampak istrinya menggeFaridat-geFaridat tetapi tidak berteriak menolak. Yang terdengar justru desahan dan rintihan dari mulut Farida yang terdengar penuh kenikmatan, bahkan mata Farida nampak memandang Bobby dengan tongkolnya yang sangat besar, sedang memompa kemaluannya. Jericho melihat bagaimana pinggul istrinya sedemikian bergairahnya menjemput keluar masuknya ****** Bobby yang kelewat besar itu. Adakah Farida juga telah diterkam obat perangsang itu, sehingga membuatnya kini menyerah dalam jarahan seksual para begundal itu? ‘Ah masa bodohlah, aku sendiri punya kebutuhan pula, birahiku ooohhhhh, menyaksikan istriku dient*t para begundal itu’, demikian pikir Jericho. Jarak lubang dengan posisi istrinya yang terikat ini tidak lebih dari 1 meter di kamar yang relatif sempit itu. Jericho dapat dengan nyata menyaksikan mengkilatnya batang ****** Bobby yang keluar masuk menembus memiaw Farida istrinya. Tanpa dapat dicegah, air liur Jericho menetes saat melihat ****** Bobby yang luar biasa itu. Telinganya yang menangkap suara desahan dan rintihan istrinya yang tidak lagi terbungkam itu sebagai pertanda kenikmatan yang sedang melanda istrinya. Jericho tersenyum. tongkolnya yang ngaceng dipepetkannya ke dinding. Pelan-pelan digosok-gosokkannya. Duhh…, nikmatnyaaaa… Dari lubang ingintipan itu, Jericho melihat Bobby semakin cepat memompa. Makin cepat, makin cepat, cepat, cepat… Dan, ‘AACCHH…’, terdengar teriakan Bobby… Dan sperma Jericho muncrat berbarengan dengan air mani Bobby yang tumpah-ruah di kemaluan dan tubuh istrinya Farida. Itulah kepuasan seksual pertama sejak perkawinannya dengan Farida istrinya, pada hari-hari yang seharusnya penuh bahagia, pada hari-hari bulan madunya. Kemudian Jericho lemah terduduk. Tetapi tidak lama. Dia mendengar kembali suara-suara desahan dan rintihan dari kamar sebelah, Jericho kembali mengintip. Kini dia melihat Cakra menindih tubuh istrinya. Dia melumat leher, ketiak dan dada Farida. Sementara tangan kanannya memegang tongkolnya yang bukan main indahnya di mata Jericho kini, dan tangan kirinya memeluk pinggul Farida untuk menempatkan lubang kemaluannya persis di ujung tongkolnya. Dan yang menjadi sasaran birahi Jericho sekarang adalah menyaksikan istrinya Farida menggeFaridat-geFaridatkan pinggulnya menahan kenikmatan pada saat vaginanya melahap ujung ****** Cakra. Tubuhnya dicekal oleh otot-otot lengan Cakra. Dan vagina Farida dengan penuh kepasrahan menerima tembusan dan tusukan nikmat dari begundal brutal itu. Mata Jericho melotot melihat adegan-adegan itu. tongkolnya kembali bangkit ngaceng. Obat perangsang yang dicekokkan padanya membuat tongkolnya tidak dapat tidur. Dan kembali dinding kamarnya menerima gosokan ****** Jericho. Dan keadaan Farida sendiri, tak terhindarkan lagi, kebrutalan para begundal itu mulai menjadi, Farida menyaksikan wajah Bobby langsung tenggelam, dia rasakan sedotan bibir tebal dan jilatan-jialatan lidah kasarnya yang merambahi ketiak, leher, dadanya… Dia rasakan bagaimana bibir Bobby mencaplok kedua payudaranya. Lidahnya menari-nari pada putingnya. Gigitan kecil tetapi terasa sangat kasar membuat putingnya menjadi perih. Tetapi yang dia rasakan sangat aneh adalah…, perasaan ngeri, takut dan cemas itu, mengapa pupus, ternyata pupus, mengapa yang hadir kini justru rasa haus yang amat sangat. Dia diserang rasa kehausan yang amat sangat. Ingin sekali dia mendapatkan air untuk tenggorokannya. Ingin sekali, ingin sekali. Dia sangat menantikan Bobby mengangkat celana pesingnya yang membungkam mulutnya. Dia sangat menantikan bibir tebal Bobby melumat bibirnya. Dia ingin sekali meminum ludah Bobby langsung dari mulutnya. ‘Oohhhh Bobbyi tolooong… akuuu hauss…, tolong Bobbyii, tolongggg…’. Dan kehausan itu semakin menjadi ketika dilihatnya Cakra menyusul menenggelamkan wajahnya ke selangkangannya. Lidah Cakra yang juga kuat dan kasar itu langsung menjilat seluruh bibir kemaluannya. Langsung membor lubang vaginanya. Untung saja Bobby tahu…, Bobby yang telah 55 tahun itu tahu reaksi perempuan yang kehausan saat menerima jilatan, sedotan, sentuhan lidah maupun bibir atau sodokan ******. Dia tahu bagaimana desakan birahi akan membuat tenggorokannya mengering dan seorang perempuan akan meminta agar secepatnya dilumat bibirnya untuk dapat menyedot ludah lelaki yang menyetubuhinya dan secepatnya kemaluannya ditembus ****** besarnya. Bobby yang sangat berpengalaman itu serta merta meraih celana dalamnya yang sejak tadi disumpalkan pada mulut Farida. Kemudian secepat kilat bibirnya melumat bibir sensual pengantin cantik itu. Dan serta merta, Farida langsung menyambutnya dengan penuh kelahapan birahinya. Dia dengan histeris menyedot ludah Bobby. Bahkan dari bibirnya juga keluar bisikan-bisikan kehausannya. ?Pak Bobbyi, ayyooo, Farida udah tidakk tahannn…, ayyooo Pak Bobbyi…, Farida udah pengin ****** Pak Bobby ituu…, ayoooo Pak Bobbyiii …?. Bobby tahu bahwa Farida sedang dalam keadaan tersiksa oleh deraan nafsu birahinya sendiri, dia tolak Cakra dari keasyikannya melumati kemaluan Farida, kemudian dirabanya kemaluan indah itu. Cairan birahinya sudah membanjir. Dan Bobby dengan cepat mengambil posisi. Dia kangkangkan selangkangan Farida, untuk kemudian dia menempatkan tongkolnya di antara selangkangan Farida itu. Diarahkannya ****** itu langsung ke lubang vagina Farida, yang telah sangat kehausan menunggunya. Karena Farida masih perawan, sejago-jagonya Bobby tetap saja segalanya masih harus diusahakan dengan keras. ****** itu setiap kali meleset dari targetnya. Mungkin licin. Beberapa kali Bobby merasa tongkolnya sudah tepat berada di mulut vagina Farida, meleset lagi. Dan saat berhasil tembus, Farida berteriak kesakitan, dan Bobby melihat darah keperawanan Farida mengalir dari bibir vaginanya. Selaput perawan Farida telah robek. Kemaluan Farida sudah berhasil ditembus ****** Bobby. Kemudian Bobby mulai memompa. Pelan…, pelan…, pelan…, tetapi Farida sendiri yang sudah sangat kegatalan ingin lebih cepat… Dan Bobby menurut untuk mempercepat… Dari balik kamar, Jericho ternyata ikut menyaksikan saat-saat itu. Hingga dia saksikan bagaimana Bobby memuntahkan bermili-mililiter air maninya ke dalam memiaw istrinya Farida itu. Dan dalam kesempatan itu, Jericho juga menyalurkan birahinya hingga spermanya menyemprot dinding tempatnya mengintip istrinya menikmati genjotan Bobby. Sungguh suatu pengalaman yang sangat dahsyat bagi perawan seperti Farida ini. Seumur-umur baru kali inilah dia merasakan nikmatnya senggama. Saat Bobby melepas spermanya tumpah di dalam vaginanya, Farida pun mendapatkan orgasme pertamanya. ****** Bobby masih berada di dalam lubang vaginanya saat Cakra datang. Dia menepuk punggung Bobby, mengisyaratkan meminta ‘jatah’nya. Farida menatap kehadiran Cakra dengan pandangan penuh gairah dan birahi. Orgasme yang baru saja diraihnya bersama Bobby belum menghabiskan semangat libidonya. Kegatalan birahi pada kemaluannya masih menuntut gesekan batang-batang penuh kejantanan dari para pecundang ini. Dan begitu Cakra datang serta langsung menembakkan rudalnya pada memiaw Farida, ditariknya tubuh Cakra. Dia ingin Cakra ******* nonoknya dengan bibir tebal Cakra tetap melumat bibirnya. Dia ingin menguras ludah dari mulut Cakra. Dia ingin mendengarkan desah dan rintih Cakra yang merasa kelimpungan oleh jepitan vaginanya langsung di telinganya. Dia ingin hidungnya mengendus seluruh keringat yang keluar dari tubuh Cakra. Dia ingin Cakra melumat ketiaknya, payudara dan putingnya. Kini Farida telah menjadi kuda betina yang binal. Dia tidak lagi memikirkan Jericho. Dia hanya ingin Jericho bergabung dalam kenikmatan bersama ini. Dia ingin Jericho menerima kenyataan dunia ini. Dia ingin Jericho untuk tetap setia dan menurut saja pada dewa-dewa jantan yang begundal dan brutal ini. Farida berkeyakinan kedua brandal begundal brutal ini adalah dewa-dewa jantan yang membawa sejuta kenikmatan. Jericho harus patuh dan tunduk pada mereka. Sementara itu di kamar lain… Jericho kini menyadari bahwa Cakra dan Bobby telah memberikan kenikmatan tak terhingga pada Farida istrinya. Dia berfikir sederhana, kalau ******-****** Cakra dan Bobby itu nikmat bagi Farida yang dicintainya, tentunya akan nikmat pula bagi Jericho yang mencintainya khan? Suatu logika yang sangat rasional. Kalau Farida meminum dengan rasa segar ludah Cakra maupun Bobby, tentunya ludah itu juga akan menyegarkan bagi Jericho khan? Dan pada akhirnya semua bagian tubuh Cakra maupun Bobby mestinya nikmat dan layak untuk dinikmati semuanya khan? Kini ganti Jericho yang diserang rasa haus… Tiba-tiba terdengar kunci kamar itu dibuka oleh seseorang. Nampak Cakra dan Bobby masuk dan memeriksa wajah Jericho. Kemudian dia periksa pula tongkolnya. Mereka tersenyum. Kemudian Cakra dan Bobby memeriksa dinding di dekat kotak kayu dimana Jericho tadi mengintip. Diamatinya dinding itu. Dan saat ditemukannya sperma Jericho yang masih meleleh pada dinding, kembali Cakra dan Bobby tersenyum puas. Jericho berharap sumpal mulutnya dilepaskan seperti halnya Farida istrinya. Tapi ternyata tidak. Kedua begundal itu kini menyodorkan ****** mereka ke wajahnya. ‘Ooohh…, mereka hendak membuang air kencingnya ke wajahku’, pikir Jericho. Jericho menunggunya dengan perasaan penuh birahi. Dia amati ****** Bobby yang ujungnya bulat seperti jamur merang. Lubang kencingnya menganga lebar. Dan Ujung ****** Cakra nampak agak belang. Kulupnya masih membungkus, tanda bahwa dia belum ngaceng sempurna. Dan akhirnya, seerrr… dan seeerrrrr…, kencing Bobby dan Cakra langsung mengguyur wajah Jericho. Celana dalam Cakra itu ternyata langsung menyerap cairan kuning itu. Di dalam mulutnya, Jericho merasakan hangat air kencing mereka berdua. Dia berusaha menelannya sebanyak mungkin. Inilah obat haus bagi Jericho. Sedemikian banyaknya kencing Cakra dan Bobby sehingga membuat Jericho tampak seperti mandi. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh air kencing mereka. Bau pesing air kencing itu seakan-akan menjadi bau sedap bagi Jericho yang sedang horny. Setelah selesai, Cakra mengambil celana dalam yang menyumpal pada mulut Jericho. Jericho lega. Akhirnya rahangnya dapat beristirahat setelah sekitar 4 jam menganga. Tetapi ternya urusan masih belum selesai. Cakra memerintahkan Jericho untuk membuka mulutnya lagi. Diperasnya air kencing Cakra dan Bobby yang terserap dalam celana dalam Cakra itu ke mulut Jericho. Dan tanpa disuruh lagi Jericho langsung menjilatinya. Kemudian Bobby berbicara. ?Kamu sekarang jadi budakku. Tahu?!?. Jericho seakan mendengar berita gembira. Dia mengangguk angguk senang. Kemudian Cakra menuntun menuju kamar dimana Farida masih terikat di ranjangnya. ?Hai, pelayanku, budakku, anjingku… Bersihkan nonok istrimu dari peju-peju (sperma) kami yang tertinggal di dalamnya. Kamu sedot dengan mulutmu sampai bersih. Cepat?. Ternyata Bobby dan Cakra ini benar-benar seorang ahli kejiwaan yang hebat. Mereka pakar sekali dalam hal mengubah, merusak dab menghancurkan mental orang lain. Dan tampak sekarang…, Jericho telah tercuci otaknya menjadi budak yang penurut dan ****** yang siap menunggu perintah tuannya. Dia siap untuk melakukan apapun, termasuk minum air kencing mereka atau bahkan lebih dari itu. Tidak ada lagi rasa tabu, jijik, jorok bagi para budak mereka. Farida juga telah diubah sebagai budak seksnya. Pasangan itu akhirnya kembali seperti halnya yang diharapkan oleh para tamu dalam acara pesta kemarin siang, ?Semoga Jericho dan Farida selalu saling melengkapi?. Dengan karakter baru setelah melalui garapan Bobby dan Cakra, pasangan Jericho dan Farida tetap saling melengkapi. Setidak-tidaknya di depan para berandal brutal itu. Dan kini Jericho merangkak di lantai menuju tepian ranjang. Dia datangi nonok Farida yang masih basah penuh sperma yang meleleh dari lubang vaginanya. Jericho harus membersihkan dengan lidahnya. Dia dekatkan bibirnya menuju vagina yang penuh lelehan sperma Cakra dan Bobby itu. Lidahnya menjilati dan bibirnya langsung menyedotnya hingga nonok Farida kembali kosong. Sejak kehadiran Jericho kembali ke kamarnya dan kemudian menjilati kemaluannya dari sisa-sisa sperma yang dibuang Bobby dan Cakra ke dalam vaginanya, Farida hanya dapat menyaksikan dengan diam. Pandangannya pada Jericho sudah hambar. Bukannya karena Jericho tidak dapat menyelamatkan dia saat-saat menderita. Tetapi Farida kini yakin bahwa Jericho tidak mungkin dapat memberikan kenikmatan ranjang macam Cakra dan Bobby. Jericho tidak akan mampu merangsang birahinya untuk meraih orgasmenya. Dan di mata Farida kini, Jericho memang hanya pantas menjadi budak atau ****** yang menjilati sperma buangan tuannya. Semua yang dilakukan Jericho sepenuhnya berada dalam pengawasan Cakra dan Bobby. Mereka puas melihat Jericho. Mereka juga puas melihat Farida. Kini tali-tali mereka akan dilepaskan. Cakra dan Bobby yakin bahwa Jericho dan Farida sekarang bukan lagi Jericho dan Farida pada 4 jam yang lalu. ?Tadi saat kaFaridan datang, kami sepenuhnya melayani kaFaridan. Sekarang kamu menjadi pelayan-pelayan kami, menjadi budak-budak kami, menjadi ******-****** yang setia pada kami. Dengar, kami akan bermurah hati melepaskan tali kaFaridan. Agar kaFaridan selalu siap menjalankan perintah kami berdua?. Kemudian tali-tali mereka dilepaskan. Bobby memerintahkan keduanya untuk mandi dan berganti pakaian. Cakra dan Bobby akan menunggu mereka untuk makan malam di teras kebun. Tempat itu sengaja dipilih karena malam ini adalah malam purnama. Jericho dan Farida akan disuguhi pemandangan malam yang sangat indah. Bobby membisikkan kepada Jericho dan Farida, bahwa dia telah memasak makanan kesukaan mereka. Sebelum meninggalkan pasangan itu, Cakra dan Bobby menyampaikan selamat malam dengan sangat santun.